Banjir Lahar Makin Sering Terjadi

5 Des

Kali Code kembali meluap pasca-hujan deras melanda Sungai Boyong, setelah hampir seluruh wilayah Yogyakarta diguyur hujan, Jumat (3/12) sore. Jika di hari-hari mendatang hujan terus turun, dipastikan terjadi banjir lahar dingin hampir di semua sungai yang berhulu di Merapi.

Sungai Code yang sudah dua kali terlanda banjir lahar dingin selepas Merapi meletus November lalu mengakibatkan warga di sekitarnya kalang kabut karena harus selalu melakukan pembersihan lumpur yang masuk rumah hingga mencapai separo dari ketinggian rumah.

Di Jembatan Juminahan, Kota Yogyakarta, ketinggian permukaan Kali Code mulai naik sekitar pukul 15.30. Air berwarna coklat dan membawa materi lahar dingin berupa lumpur dan pasir. Permukaan air sempat mencapai ketinggian 140 sentimeter atau naik sekitar 120 cm dari ketinggian normal yang hanya berkisar 20 cm.

Pengurus Radio Komunitas Pareanom yang memantau di Jembatan Juminahan, Basirun Sarjono (52), mengatakan, banjir tersebut lebih rendah dari Senin lalu. Saat itu, ketinggian air mencapai 180 cm. ”Akan tetapi, arusnya lebih deras sekarang ini,” katanya.

Banjir lahar dingin terlihat merendam sejumlah rumah warga yang terdapat di sisi barat Kali Code. Di kawasan Jogoyudan, sejumlah rumah terlihat terendam hingga mendekati atap rumah.

Warga Jogoyudan, Suman (45), mengatakan, di RT 42 itu terdapat 45 rumah terendam banjir, lima hari yang lalu. Pada banjir kali ini, rumah-rumah tersebut terendam kembali.

Menjelang pukul 17.00, sebagian wilayah Jogoyudan seolah menjadi kampung mati. Suasananya gelap dan sunyi karena listrik padam.

Dengan intensitas hujan yang semakin tinggi dan sering, semua kali yang berhulu di Merapi berpotensi sama besar dialiri lahar dingin dengan deras. Terbentuknya alur air baru di dusun-dusun yang tertutup endapan material juga menambah material yang meluncur melalui kali.

Semua sungai

Kepala Bidang Penyediaan dan Pembinaan Sumber Daya Air Dinas Sumber Daya Alam Energi dan Mineral Sleman Warsono menyatakan, banjir lahar dingin di semua sungai yang berhulu di Merapi, seperti Gendol, Krasak, Bebeng, Opak, Kuning, hanya tinggal menunggu waktu. Hujan saat ini semakin sering dan durasi semakin lama. Hitungan teknisnya, jika hujan mengguyur dengan intensitas lebih dari 30 mm per jam dan durasinya lebih dari satu jam, itu sudah cukup untuk menggelontorkan material pasir Merapi.

Sungai yang sebelumnya tak tersentuh material, seperti Kali Opak, kali ini kebanjiran lahar dingin sehingga jembatan di Dusun Pagerjurang, Desa Kepuharjo, Cangkringan (dekat Merapi Golf) sempat tertimbun Kamis lalu. Jembatan penghubung Desa Kepuharjo-Umbulharjo ini memang bisa dilapangkan dengan menerjunkan alat berat. Namun, ketinggian material sudah melebihi badan jembatan.

Endapan material vulkanik di dusun-dusun wilayah Desa Kepuharjo, Glagaharjo, dan Umbulharjo juga berpotensi menjadi alur sungai baru. Setidaknya itu sudah terlihat di Dusun Jambu dan Kopeng, Kepuharjo. Kondisi ini sangat membahayakan.

Menurut Kepala Desa Kepuharjo Heri Suprapto, alur-alur baru ini perlu dikembalikan. Maksudnya ialah dialirkan ke Gendol, kali yang ukurannya lebih besar. Namun, bisa juga endapan material dusun juga dikeruk. Perlu alat berat untuk tujuan ini. Hanya saja, upaya memasukkan alat berat bukan hal mudah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: