Indonesia Belum Aman

17 Des

Jalan Indonesia ke final Piala Suzuki AFF 2010 belum aman setelah hanya menang 1-0 atas ”tuan rumah” Filipina pada laga semifinal pertama di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (16/12). ”Kemenangan ini sangat penting, tetapi tiket final belum aman,” kata Pelatih Indonesia Alfred Riedl.

Meski berstatus tamu, tim Merah-Putih diuntungkan karena tidak bertandang ke Filipina setelah Federasi Sepak Bola ASEAN (AFF) mengharuskan tim berjulukan ”Azkals” ini bermain di Jakarta karena tidak memiliki stadion yang layak untuk menggelar laga internasional.

Gol kemenangan tim Indonesia dicetak pemain naturalisasi, Cristian Gonzales, menit ke-31, memanfaatkan umpan Firman Utina. Gol Gonzales tercipta akibat kesalahan fatal penjaga gawang Neil Etheridge dan dua bek Filipina, Alexander Boromeo dan Rob Gier. Saat berusaha mengantisipasi umpan lambung Firman dari lini tengah, Etheridge berusaha menjangkau umpan itu, tetapi bola terbang terlalu tingi. Gonzales yang sudah menunggu menyambutnya dengan sundulan akurat mengarah ke gawang kosong Filipina.

Indonesia masih harus menghadapi laga semifinal kedua yang kembali digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, 19 Desember mendatang. ”Kami jelas senang bisa menang karena ini adalah laga tandang, tetapi pertandingan kedua bakal berbahaya karena kami hanya unggul 1-0,” ujar Riedl.

Pemenang partai Indonesia melawan Filipina akan menghadapi pemenang semifinal lainnya antara juara bertahan Vietnam dan Malaysia. Malaysia sudah menapakkan satu kaki di babak final setelah pada pertandingan leg pertama di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, berhasil mengandaskan Vietnam, 2-0.

Masih berpeluang

Pelatih Filipina Simon McMenemy mengatakan, dengan hanya kalah 0-1, timnya masih memiliki peluang besar untuk mencapai babak final. ”Ini baru separuh babak. Kami masih punya waktu karena baru defisit 0-1. Kami masih berpeluang,” kata pelatih asal Inggris ini.

Kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang turut menyaksikan laga tim nasional Indonesia membuat pengamanan di kawasan stadion sangat ketat. Sebelum masuk, semua barang bawaan penonton harus melewati pemindaian.

Keuntungan dukungan penonton itu tidak didapat oleh Filipina yang, meski berstatus tuan rumah, justru harus bermain di depan puluhan ribu pendukung tim tamu yang memadati Gelora Bung Karno.

Selayaknya kandang mereka, sekitar dua jam sebelum pertandingan, ofisial dan para pemain Filipina memasuki lapangan yang disambut cemooh ribuan pendukung tim tamu yang sudah masuk ke tribune.

Pelatih Simon McMenemy tampak melambai-lambaikan tangan dengan santai kepada penonton. Sejumlah pemain Filipina yang kebanyakan adalah pemain nonprofesional juga tampak santai, bahkan ada yang berfoto-foto di lapangan. Mereka tampak sama sekali tidak terintimidasi oleh teriakan pendukung Indonesia.

”Saya puas dengan permainan para pemain. Suporter di sini sungguh luar biasa. Ini pengalaman yang sangat berharga bagi para pemain. Kami bermain sesuai dengan rencana, tetapi pemain ke-12 benar-benar membantu Indonesia. Kami kecewa karena tidak bermain di kandang sendiri, tetapi kami gembira bermain di sini karena saya cinta sepak bola. Bermain di depan 80.000 penonton sungguh pengalaman tidak ternilai. Penonton Indonesia sungguh luar biasa,” ujar pelatih yang masih berusia 32 tahun ini.

Diperkuat sedikitnya delapan pemain berbasis di Eropa, Filipina menjadi tim paling mengejutkan selama pergelaran Piala AFF tahun ini. Tim yang semula dianggap sebagai ”anak bawang” di kawasan Asia Tenggara itu tiba-tiba menjadi raksasa yang mampu menaklukkan juara bertahan Vietnam, 2-0, dan menahan juara tiga kali, Singapura, 1-1.

Dalam sejarah Piala AFF, kedua tim pernah bertemu pada tahun 1998 (masih bernama Piala Tiger). Pada laga di babak penyisihan grup itu, Indonesia menang 3-0. Dua tahun berikutnya, Indonesia kembali mengalahkan Filipina 3-0. Kemenangan terbesar Indonesia diraih pada tahun 2002 saat berhasil menghujani gawang Filipina dengan skor 13-1.

Namun, Filipina sekarang tidak lagi selemah itu. Mereka diperkuat pemain seperti Younghusband bersaudara, Phil dan James, yang adalah lulusan Akademi Chelsea, penjaga gawang Fulham, Neil Etheridge, mantan gelandang Wimbledon, Rob Gier, dan juga gelandang Chris Greatwich. Etheridge memiliki rekor terbaik saat penyisihan grup dengan hanya satu kali kebobolan.

”Filipina sangat bagus. Mereka sangat sulit dihadapi, pertahanan mereka sangat sulit untuk dibongkar. Saya cukup terkejut karena mereka lebih baik dari perkiraan kami saat menonton video penampilan mereka,” ujar Riedl.

Menghadapi laga kedua, Indonesia yang hanya butuh hasil imbang tetap akan berusaha untuk memetik kemenangan. ”Kami tidak akan mengejar hasil imbang, terlalu berbahaya. Filipina barangkali akan lebih menyerang untuk mengejar ketinggalan. Dengan demikian, mungkin kami bisa dapat ruang untuk menyerang,” katanya.

Sementara McMenemy menyatakan, timnya tetap akan tampil dengan disiplin seperti pertandingan pertama. Meski ketinggalan, mereka tidak mau terlalu terburu nafsu untuk menyerang.

”Sangat penting bagi kami untuk tetap disiplin. Ketinggalan 1-0 masih memungkinkan. Jika kami ketinggalan dua atau tiga gol, akan sangat sulit,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: