Nasib Sekolah yang Malang

27 Jan

Sekolah memiliki tugas berat mendidik dan memberikan pengetahuan kepada para penerus bangsa. Di tempat inilah akhlak dan pengetahuan dasar seseorang dibentuk. Namun, sungguh memperhatikan manakala di sana-sini sarana sekolah masih saja jauh dari harapan.

Dinding terkelupas, langit-langit bocor, pintu reot, hingga atap roboh mungkin hanya ada di bayangan sekolah di daerah terpencil. Namun, di kota metropolitan seperti Jakarta nyatanya tak jauh berbeda.

Di saat APBD tahun 2011 provinsi ini meningkat menjadi Rp 28,7 miliar, Jakarta masih tak mampu mendanai 346 gedung sekolah yang rusak. Sebagai contoh di SDN Malaka Jaya 06, dua kelas tak lagi layak dipakai karena langit-langit kelas nyaris roboh.

Bahkan untuk menopang agar tak ambles, langit-langit kelas di sekolah yang terletak di Jakarta Timur tersebut terpaksa disangga dengan sebuah tongkat kayu panjang. Pihak sekolah pun tak mau ambil resiko dan memutuskan untuk memindahkan kegiatan belajar mengajar ke sebuah mushala.

“Sudah satu semester ini kami pindahkan ke mushala karena takut keselamatan anak-anak,” ujarnya.

Selain dua kelas yang atapnya nyaris roboh, genting dua gedung di sekolah itu pun tampak miring dan banyak bagian yang hilang. Untuk biaya perbaikan, pihak sekolah mengaku menunggu janji suku dinas yang akan memperbaiki sekolah tersebut pada bulan Juni-Juli 2011.

“Kami tunggu janji itu, soalnya dari tahun-tahun sebelumnya kami ajukan usulan untuk perbaikan nyatanya tidak pernah ada,” ucap guru SDN Malaka Jaya 06, Toto Edi, Selasa (26/1/2011), di Jakarta.

Lain lagi cerita SMPN 198 Duren Sawit. Hampir di tiap kelas bangunan lama sekolah itu, ditemui langit-langit yang mulai mengelupas. Di salah satu kelas bahkan ditemukan pintu yang sudah dimakan umur, reot, dan posisinya pun miring.

Di SDN 14 Pondok Bambu, Kepala Sekolah Dedi Priatna mengaku prihatin dengan kondisi sekolahnya karena kusen dan lantai banyak yang rusak. “Dari tahun 75 kami tidak dapat dana rehab baik ringan atau total,” ucap Dedi.

Kondisi kerusakan parah juga dialami SMPN 273 Kampung Bali. Dua laboratoriumnya roboh dan tak dapat lagi dipakai.

“Waktu hujan itu, tiba-tiba saja ambruk. Padahal anak-anak baru saja selesai belajar di lab, syukurnya tidak ada yang kena,” ungkap salah seorang guru SMPN 273 Kampung Bali, Rabu (26/1/2011), saat dijumpai di sekolah tersebut.

Dua ruangan yang ambruk dan kini beratapkan langit tersebut yakni laboratorium pangan dan laboratorium mesin. Laboratorium pangan justru disulap menjadi tempat parkir motor, sementara laboratorium mesin sama sekali tak terpakai dan dibiarkan telantar dengan kayu-kayu yang jatuh melintah di dalamnya.

Berdasarkan data Pemprov DKI, jumlah gedung sekolah yang belum diperbaiki sampai tahun 2011 mencapai 346 buah. Wakil Gubernur DKI Prijanto menjanjikan, keempat sekolah tersebut mendapatkan dana rehabilitasi yang akan diperjuangkan pemerintah dalam usulan perubahan APBD tahun 2011.

“Kalau lihat ini, dan masih berempati, tidak ada alasan untuk tidak membuat perubahan dan menambah dana rehabilitasi dalam APBD,” ujar Prijanto saat berkunjung keempat lokasi tersebut.

sumber : kompas.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: