Warga Jepang Selamat karena Tak Panik

12 Mar
PHOTO/JIJI PRESS Warga Jepang di Kota Sendai, Fukushima berkumpul di taman setelah gempa berkekuatan 8,9 mengguncang Jepang, Jumat (11/3/2011). Mereka mengenakan pelindung kepala untuk mengamankan diri.

Meski berjarak 500 kilometer dari pusat gempa, ketakutan luar biasa dirasakan sejumlah warga negara Indonesia yang berada di Hamamatsu, Perfectur Shizuoka, Jepang. Namun, mereka tetap selamat karena percaya pada sistem evakuasi dan tak terjebak kepanikan.

“Lima menit pertama saat gempa sampai pukul 15.18 waktu Jepang atau 13.18 WIB adalah saat paling menakutkan. Saat itu, kami sedang dalam kondisi bekerja, lalu diinstruksikan berlindung di bawah meja,” kata Bastian Widyantoro (31), warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di perusahaan swasta, kepada Kompas.com, Jumat (11/3/2011) malam.

Widyantoro menceritakan, sekitar satu menit dia berada di bawah meja, benda-benda berjatuhan dan gempa tak berhenti juga sampai sekitar setengah jam. “Setelah gempanya tidak terlalu mengguncang, instruktur menyuruh kami untuk segera keluar ruangan menuju ke tempat evakuasi,” ujarnya.

Di tempat evakuasi, tutur Widyantoro, tiap divisi kemudian mendata siapa yang belum ada ataupun yang sudah lengkap. Ketika keadaan sudah membaik, semua karyawan masuk ke dalam ruangan kembali. “Untungnya semua selamat, tapi kebanyakan karyawan juga ketakutan, termasuk orang Jepang. Menurut mereka, gempa kali ini adalah yang terhebat,” ceritanya.

Hal yang perlu diacungi jempol dari orang Jepang saat terjadi gempa adalah sikap tidak panik. Umumnya, kepanikan seseorang saat gempa seperti spontan berlari ke luar ruangan atau cepat-cepat menuruni tangga malah menyebabkan dirinya celaka. “Hebatnya, mereka tidak histeris. Rata-rata mereka sudah terlatih. Sementara kami, karena tak segera disuruh keluar, terlihat lebih panik saat gempa berlangsung. Namun, kami tetap bertahan menunggu instruksi untuk evakuasi, dan kami selamat,” paparnya.

Senada dengan cerita Widyantoro, Oktavia Pambudi (29), WNI yang juga bekerja di Hamamatsu, tetap bertahan di bawah meja dan menunggu peringatan untuk evakuasi. “Ya takut, pusing, gemetaran di bawah meja. Tapi, saya percaya sama sistem evakuasi dan bangunan di Jepang memang dirancang tahan gempa,” ujarnya.

Putri (23), seorang WNI yang bekerja di Saitama, Misato, Jepang, kepada Kompas.com menuturkan betapa terlatihnya orang Jepang menghadapi gempa. “Waktu awal-awal gempa, orang-orang Jepang itu terlihat tenang. Malahan dalam kondisi gempa yang guncangannya belum kencang, ada yang mau ngehidupin televisi,” ceritanya.

Saat ini, ujar Putri, guncangan gempa-gempa susulan masih dirasakan warga. Suasana masih kacau lantaran kemacetan lalu lintas di semua ruas jalan. Mereka masih meningkatkan kewaspadaan dan tak panik. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: