Bisa Banyak Bahasa, Otak Lebih Tajam

24 Jun

Berapa bahasa yang Anda kuasai? Jika sedikitnya ada dua, selamat. Berarti Anda sudah “berinvestasi” banyak untuk mencegah kepikunan yang timbul di usia nanti. Ini adalah hasil penelitian Dr Ellen Bialystok, seorang profesor psikologi dari York University, Toronto. Selama empat puluh tahun lebih, hasil penelitian Bialystok memperlihatkan bahwa kemampuan bilingual memengaruhi ketajaman otak seseorang. Mereka yang bicara dalam dua bahasa juga terlihat lebih lihai dalam ber-multitasking. Selain itu, temuannya terakhir juga membuktikan, orang yang bicara dalam dua bahasa¬† juga berisiko lebih rendah untuk mengalami gejala penyakit Alzheimer di hari tuanya.

Bagaimana bisa begitu? Dari pengamatannya terhadap kemampuan berbahasa yang dimiliki anak-anak, terlihat anak yang bilingual memiliki sistem kognitif yang lebih baik daripada anak-anak monolingual. “Di otak setiap orang terdapat semacam sistem kendali yang membuat Anda fokus terhadap apa yang terdengar relevan, sekaligus mengabaikan yang tidak penting. Itu sebabnya, Anda dapat menyimpan dua hal berbeda di benak pada waktu bersamaan, lalu menggunakannya secara bergantian, sesuai kebutuhan,” kata Bialystok.

Jika Anda menguasai dua bahasa, kedua bahasa ini akan muncul bersamaan di otak setiap kali Anda bicara. Kemudian, sistem kendali ini yang akan memilahnya dan menyesuaikan dengan bahasa apa yang sedang dipakai pada waktu itu. Dibandingkan mereka yang hanya bicara dalam satu bahasa, otak orang bilingual lebih terasah dan apabila kedua bahasa digunakan terus-menerus dalam jangka panjang, sistem ini akan menjadi semakin efisien.

Hal penting yang digarisbawahi oleh Bialystok, penguasaan dua bahasa yang dimaksud adalah bahasa yang digunakan sehari-hari dan secara terus-menerus. “Jadi, bukan bahasa asing yang Anda pernah pelajari di sekolah, melainkan bahasa yang selalu digunakan,” katanya lagi.

Selain itu, dua bahasa tidak melulu berkaitan dengan bahasa asing, tetapi termasuk juga bahasa daerah yang Anda gunakan di rumah.

 

Sumber : New York Times , Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: